Breaking News

Dugaan Kekerasan di Ponpes Darul Ulum Amiral Takalar: Versi Korban dan Bantahan Pesantren Berbeda

KELELAWARNEWS.COM,-Takalar, Pondok Pesantren Darul Ulum Amiral, yang berlokasi di Pakabba, Kabupaten Takalar, kembali menjadi sorotan publik setelah mencuatnya dugaan kasus kekerasan terhadap seorang santri berinisial MN (15). Peristiwa tersebut diduga terjadi pada Jumat, 12 Desember 2025, di dalam lingkungan pondok pesantren.

Kasus ini terungkap setelah keluarga MN angkat bicara dan melaporkan adanya dugaan penganiayaan yang dialami anak mereka. Berdasarkan keterangan korban dan keluarga, MN diduga menjadi korban pemukulan oleh dua sesama santri berinisial LN dan IT, serta satu oknum guru berinisial A.

MN mengaku mengalami kekerasan fisik secara beruntun. LN disebut memukul bagian belakang kepala korban, sementara IT memukul bagian bawah mata kiri. Tak hanya itu, korban juga menuturkan bahwa oknum guru A diduga membanting tubuhnya hingga kepala MN terbentur. 

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka lebam di mata kiri serta hidung yang mengeluarkan darah cukup banyak.

Pihak keluarga menyebut kondisi MN sempat mengalami trauma dan mengeluhkan rasa sakit di bagian kepala setelah kejadian. Mereka menilai tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, terlebih jika benar melibatkan tenaga pendidik yang seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan santri.

Namun, pernyataan korban berbanding terbalik dengan keterangan pihak pondok pesantren. Kepala Pondok Pesantren Darul Ulum Amiral, Awaluddin, secara tegas membantah adanya keterlibatan guru dalam dugaan pemukulan tersebut.

“Tidak ada guru yang melakukan pemukulan. Informasi itu tidak benar,” kata Awaluddin saat dikonfirmasi, Sabtu, 3/1/2026.

Menurut Awaluddin, peristiwa tersebut murni merupakan perkelahian antar sesama santri. Ia menjelaskan bahwa luka yang dialami korban terjadi akibat konflik internal antar santri, bukan karena tindakan kekerasan dari pihak pengajar.

Perbedaan keterangan antara korban dan pihak pesantren menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai kronologi lengkap kejadian, termasuk apakah insiden tersebut disaksikan oleh pihak lain atau terekam dalam sistem pengawasan internal pesantren.

Kasus ini menambah daftar panjang sorotan publik terhadap pengawasan dan penanganan konflik di lingkungan lembaga pendidikan berbasis asrama. Keluarga korban berharap adanya penelusuran mendalam dan objektif agar fakta sebenarnya dapat terungkap, sekaligus memastikan perlindungan terhadap hak dan keselamatan santri.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait langkah penyelidikan lebih lanjut atas dugaan kekerasan tersebut.

(*)
© Copyright 2022 - KELELAWAR NEWS