Breaking News

Dari Pengakuan Akademik Menuju Tanggung Jawab Moral: Pendidikan Karakter sebagai Pilar Peradaban

KELELAWAR NEWS.COM- Di tengah dunia yang terus bergerak tanpa jeda, pencapaian akademik tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan nilai dan karakter yang kuat. Sebuah sertifikat partisipasi dalam forum internasional mungkin tampak sebagai simbol formal, namun sesungguhnya ia menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Sertifikat yang diterima Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D. dalam webinar internasional tentang peran guru dalam penguatan karakter dan pendidikan kewarganegaraan menjadi cermin dari komitmen panjang terhadap masa depan manusia dan bangsa.

Forum internasional bertajuk “The Role of Teachers in Strengthening Character and Citizenship Education in Building a Cohesive Society” menghadirkan pemikir dan tokoh pendidikan lintas negara. Diskusi yang berlangsung tidak hanya berbicara tentang kurikulum atau metode pengajaran, melainkan menyentuh persoalan paling mendasar dalam kehidupan bermasyarakat: bagaimana membangun manusia yang berkarakter, beretika, dan memiliki kesadaran sebagai warga dunia sekaligus warga bangsa.

Di era digital yang serba cepat, ilmu pengetahuan berkembang melampaui batas geografis. Namun di sisi lain, nilai-nilai kemanusiaan justru kerap tergerus. Media sosial, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi memberi kemudahan luar biasa, tetapi juga memunculkan tantangan baru berupa krisis empati, polarisasi sosial, dan melemahnya rasa kebersamaan. Dalam situasi seperti inilah pendidikan karakter menemukan urgensinya yang sejati.

Guru dan pendidik memegang peranan kunci. Mereka bukan hanya penyampai materi pelajaran, melainkan penanam nilai kehidupan. Setiap kata, sikap, dan keputusan yang diambil pendidik akan membekas dalam diri peserta didik. Pendidikan kewarganegaraan, jika dijalankan dengan kesadaran moral, mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab, menghargai perbedaan, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Partisipasi Prof. Eddy Sumartono dalam forum ini mencerminkan perjalanan intelektual yang konsisten dengan nilai kepemimpinan. Latar belakangnya di dunia maritim, pendidikan, dan kepemimpinan memperlihatkan satu benang merah: pentingnya karakter. Dalam pelayaran, keterampilan teknis tidak akan berarti tanpa disiplin, integritas, dan rasa tanggung jawab. Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sertifikat yang diterima bukanlah tujuan akhir, melainkan penanda proses pembelajaran yang terus berjalan. Ia menunjukkan bahwa belajar tidak mengenal batas usia, jabatan, atau gelar. Justru mereka yang telah mencapai banyak hal dituntut untuk semakin rendah hati dan terbuka terhadap dialog global. Sikap inilah yang menjadi teladan penting di tengah budaya serba instan dan orientasi hasil semata.

Lebih jauh, pesan dari forum ini tidak hanya relevan bagi kalangan akademisi. Setiap individu sejatinya adalah pendidik dalam ruang hidupnya masing-masing. Orang tua membentuk karakter anak melalui keteladanan sehari-hari, pemimpin organisasi membangun budaya kerja melalui nilai yang dijunjung, dan masyarakat menciptakan iklim sosial melalui sikap saling menghormati. Pendidikan karakter adalah tanggung jawab kolektif.

Bagi generasi muda, kisah ini memberikan inspirasi bahwa kesuksesan sejati tidak berhenti pada capaian personal. Ilmu dan keahlian menemukan maknanya ketika digunakan untuk memberi manfaat bagi orang lain. Dunia membutuhkan lebih banyak figur yang mampu menggabungkan kecerdasan intelektual dengan kebijaksanaan moral, serta keberanian untuk berdiri di atas nilai yang benar.

Dalam konteks Indonesia, penguatan pendidikan karakter dan kewarganegaraan menjadi kebutuhan strategis. Keberagaman adalah kekayaan sekaligus tantangan. Tanpa fondasi nilai yang kuat, perbedaan dapat berubah menjadi sumber konflik. Pendidikan berperan sebagai perekat sosial yang menumbuhkan toleransi, rasa keadilan, dan semangat kebersamaan.

Pada akhirnya, sebuah sertifikat hanyalah simbol. Nilai sejatinya terletak pada komitmen untuk terus berkontribusi bagi peradaban. Dari ruang diskusi internasional hingga praktik kehidupan sehari-hari, pesan yang sama terus bergema: masa depan dibangun oleh manusia yang berkarakter.

Semoga kisah ini menjadi pengingat dan penyemangat bagi siapa pun untuk terus belajar, menjaga integritas, dan berani mengambil peran dalam membangun masyarakat yang lebih manusiawi. Karena di atas segala pencapaian, karakterlah yang akan menentukan arah dan kualitas peradaban.(*)
© Copyright 2022 - KELELAWAR NEWS