Breaking News

Menutup Tahun 2025 dengan Inspirasi: Buku ke-15 Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono Menegaskan Martabat Awak Kapal

Keterangan Foto:
Sampul buku Hukum Perlindungan Awak Kapal: Standar Internasional, Kesejahteraan, dan Etika Maritim Modern karya Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D., yang diterbitkan sebagai buku ke-15 dan dirilis menjelang penutupan tahun 2025.


KELELAWAR NEWS, JAKARTA 2025 - 

Penghujung tahun 2025 menjadi penanda istimewa bagi dunia maritim Indonesia. Di tengah refleksi akhir tahun dan harapan baru menuju masa depan, Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D. kembali menghadirkan karya monumental melalui penerbitan buku ke-15 berjudul Hukum Perlindungan Awak Kapal: Standar Internasional, Kesejahteraan, dan Etika Maritim Modern. Buku ini hadir bukan hanya sebagai capaian pribadi penulis, tetapi sebagai kontribusi intelektual yang sarat makna bagi pelaut, akademisi, dan masyarakat luas.

Terbitnya buku ini mencerminkan konsistensi Prof. Eddy dalam memperjuangkan isu kemanusiaan di sektor pelayaran. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai sosok yang memadukan pengalaman lapangan sebagai perwira dan nakhoda dengan ketajaman akademik lintas disiplin. Kombinasi inilah yang membuat setiap tulisannya tidak berhenti pada teori, melainkan menyentuh realitas kehidupan awak kapal yang kerap luput dari sorotan publik.

Dalam buku terbarunya, Prof. Eddy mengajak pembaca melihat dunia pelayaran dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Di balik gemerlap industri maritim global, pelaut masih bergelut dengan jam kerja panjang, tekanan mental, risiko keselamatan, serta ketidakpastian perlindungan hukum. Melalui pendekatan hukum internasional dan etika maritim modern, buku ini menegaskan bahwa awak kapal adalah subjek hukum yang memiliki hak, martabat, dan perlindungan yang tidak boleh dinegosiasikan.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada pembahasannya yang komprehensif namun tetap mudah dipahami. Standar internasional seperti Maritime Labour Convention (MLC) 2006 dijelaskan secara sistematis, disertai konteks implementasi di lapangan. Tidak hanya itu, buku ini juga mengulas aspek keselamatan dan kesehatan kerja, kesejahteraan sosial, hingga tanggung jawab moral perusahaan pelayaran dan negara dalam memastikan perlindungan yang berkelanjutan bagi pelaut.

Menariknya, buku ini tidak bersifat normatif semata. Prof. Eddy secara kritis mengulas kesenjangan antara aturan dan praktik, sekaligus menawarkan sudut pandang solutif. Pembaca diajak memahami peran negara bendera, otoritas pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan agen perekrutan sebagai satu ekosistem yang saling terkait. Ketika satu pihak abai, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaut, tetapi juga oleh keselamatan pelayaran dan reputasi industri secara keseluruhan.

Sebagai penutup tahun 2025, peluncuran buku ke-15 ini memiliki makna simbolik yang kuat. Ia menjadi refleksi atas perjalanan panjang Prof. Eddy dalam dunia pendidikan, praktik maritim, dan penulisan ilmiah. Lebih dari itu, buku ini menjadi pesan optimisme bahwa perubahan ke arah yang lebih adil dan beradab selalu dimulai dari kesadaran dan pengetahuan.

Buku Hukum Perlindungan Awak Kapal ditujukan untuk khalayak yang luas. Mahasiswa dan akademisi akan menemukan referensi hukum yang kaya dan relevan, praktisi maritim memperoleh panduan aplikatif, sementara pelaut dan masyarakat umum dapat memahami hak-hak dasar yang seharusnya dijamin. Dengan gaya bahasa yang lugas dan alur pembahasan yang runtut, buku ini berpotensi menjangkau pembaca lintas latar belakang.

Dari sisi visual, desain sampul buku menampilkan simbol kapal dan palu hukum yang berpadu harmonis, merepresentasikan pertemuan antara dunia pelayaran dan keadilan. Nuansa biru maritim yang dominan memperkuat pesan tentang stabilitas, profesionalisme, dan harapan. Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya kuat dari sisi isi, tetapi juga menarik secara presentasi.

Di tengah tantangan global seperti krisis tenaga pelaut, tuntutan efisiensi industri, dan perubahan regulasi internasional, buku ini hadir pada waktu yang tepat. Pesan utamanya jelas: industri maritim yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila perlindungan awak kapal ditempatkan sebagai prioritas utama. Tanpa pelaut yang terlindungi dan sejahtera, tidak akan ada pelayaran yang aman dan berdaya saing.

Menutup tahun 2025, Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono kembali membuktikan bahwa karya tulis dapat menjadi sarana perubahan. Buku ke-15 ini bukan hanya catatan akademik, melainkan seruan moral untuk membangun pelayaran yang lebih adil, beretika, dan berorientasi pada kemanusiaan. Sebuah karya yang layak dibaca, dibicarakan, dan diyakini mampu melangkah menjadi best seller di bidang hukum dan maritim.

Salam Redaksi,.

© Copyright 2022 - KELELAWAR NEWS